KETIKA tengah di jalan raya beberapa waktu yang lalu, sebuah adegan dramatis terjadi. Seorang pengendara motor tiba-tiba saja mengklakson keras dan berusaha melambatkan laju seorang pengendara lain. Dengan nada sedikit membentak, dia mengingatkan pengendara tersebut bahwa anak kecil yang di bonceng mengantuk. Posisinya sedikit miring dengan kedua tangan membelit perut pengendara motor. Pengendara yang ditegur itu pun mengangguk berkali-kali, lalu menepi.
Itulah bentuk kasih sayang dari orang yang tak dikenal meski sepintas terlihat kasar. Mengingatkan kita betapa kasih sayang itu mampu menjangkau wilayah yang paling privasi. Pengendara yang baik tersebut berani mengambil sikap berani menegur, sedangkan pengendara satunya tidak membalas makian dengan kemarahan namun respek menundukkan kepala tanda terima kasih.
Sebuah pelajaran berharga bagi kita sebagai orang tua, bahwa anak bukanlah harta benda yang bisa dimiliki secara eksklusif. Sejatinya induk dari hati yang hidup. Saat kita tersadar atau khilaf mengambil hak kasih sayang itu dari anak, alam sekitarnya pasti akan menyeimbangkannya.
Sumber : Jawa Pos, Rabu 22 Januari 2014
Itulah bentuk kasih sayang dari orang yang tak dikenal meski sepintas terlihat kasar. Mengingatkan kita betapa kasih sayang itu mampu menjangkau wilayah yang paling privasi. Pengendara yang baik tersebut berani mengambil sikap berani menegur, sedangkan pengendara satunya tidak membalas makian dengan kemarahan namun respek menundukkan kepala tanda terima kasih.
Sebuah pelajaran berharga bagi kita sebagai orang tua, bahwa anak bukanlah harta benda yang bisa dimiliki secara eksklusif. Sejatinya induk dari hati yang hidup. Saat kita tersadar atau khilaf mengambil hak kasih sayang itu dari anak, alam sekitarnya pasti akan menyeimbangkannya.
Sumber : Jawa Pos, Rabu 22 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar