SETIAP pagi sangat sengit komentar di radio atas mobil-mobil yang lewat bahu jalan tol Surabaya. Oke, itu melanggar aturan. Kalau tepergok polisi, mereka pasti ditilang. Tetapi, saya kira banyak sekali mobil lewat bahu jalan tol karena diberi "insentif" oleh keadaan tol itu sendiri.
Makin padatnya volume kendaraan makin membuat jalan tol dua lajur kewalahan. Saya kira bukan tanpa sengaja pengelola tol membuat bahu jalan semulus lajur utama. Ketika jam-jam padat, bahu jalan memang bisa menjadi penyelamat sebagai " Jalur ketiga " agar tol tidak merambat atau macet. "Kebetulan" pada jam-jam berangkat dan pulang kantor jarang patroli polisi lewat.
Kalau memang bahu jalan itu khusus untuk kedaruratan kembalikan seperti dulu: jalanya kasar berbatu dan geradag-geradag kalau untuk ngebut. Dengan begitu, siapa pun yang meluncur di bahu jalan akan "menderita" kalau tak berhenti karena darurat. Jangan malah dipermulus seperti "lajur ketiga".
Makin padatnya volume kendaraan makin membuat jalan tol dua lajur kewalahan. Saya kira bukan tanpa sengaja pengelola tol membuat bahu jalan semulus lajur utama. Ketika jam-jam padat, bahu jalan memang bisa menjadi penyelamat sebagai " Jalur ketiga " agar tol tidak merambat atau macet. "Kebetulan" pada jam-jam berangkat dan pulang kantor jarang patroli polisi lewat.
Kalau memang bahu jalan itu khusus untuk kedaruratan kembalikan seperti dulu: jalanya kasar berbatu dan geradag-geradag kalau untuk ngebut. Dengan begitu, siapa pun yang meluncur di bahu jalan akan "menderita" kalau tak berhenti karena darurat. Jangan malah dipermulus seperti "lajur ketiga".
Sumber : Jawa Pos, Kamis 28 November 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar